Malam Keji

Tidak ada komentar 314 views
Malam Keji,5 / 5 ( 1voting )
Cerita abg muda
website taruhan bola


alt="how to optimize image" title="optimize image"/>

Wiwin – Anisya

aktu
sudah larut malam saat Wiwin dan Anisya pulang jalan-jalan dari sebuah mall di
kota Bandung, kota tempat mereka menuntut ilmu pada sebuah PTN terkemuka. Saat
itu kampus mereka sedang liburan semester yang lumayan lama, sehingga banyak di
antara teman-teman mereka yang memilih pulang kampung, namun bagi Wiwin dan
Anisya lebih memilih untuk tetap tinggal di kota Bandung karena tidak banyak
yang dapat mereka kerjakan untuk mengisi waktu liburan di Jakarta kota asal
mereka.

Sampai di tempat kost mereka kira-kira jam
10 malam. Saat itu daerah di sekitarnya sudah sepi begitupula di dalam
kost-kostan karena semua penghuninya pulang ke kampung atau kota asal mereka
masing-masing untuk memanfatkan waktu liburan kuliah mereka, dan kini
tinggallah mereka berdua saja yang masih bertahan di dalam areal kost yang luas
dan besar itu. Walau usia mereka terpaut jauh, mereka berdua sangatlah akrab
karena selain mereka tinggal sekamar dan berasal dari Jakarta, di kampus mereka
juga satu fakultas.
Wiwin
saat ini berusia 26 tahun, sementara Anisya baru berusia 18 tahun. Keduanya
memiliki wajah yang cantik, Wiwin dengan bentuk badan yang berukuran sedang
nampak anggun dengan penampilan kesehariannya, sedangkan Anisya memiliki tubuh
yang mungil dan wajah yang imut-imut. Banyak pria yang tertarik kepada mereka
berdua, karena bukan saja mereka cantik dan pintar, namun mereka juga pandai
dalam bergaul dan ringan tangan. Akan tetapi dengan halus pula mereka menolak
berbagai ajakan yang ingin menjadikan mereka sebagai kekasih atau pacar dari
para pria yang mendekati mereka.
Wiwin
saat ini lebih memilih berkonsentrasi untuk menghadapi sidang skripsinya,
sedang Anisya yang baru menamatkan tahun pertamanya di kampus tersebut lebih
memilih untuk aktif di organisasi kampus dari pada pacaran atau berhura-hura.
Sesampainya
di kost, Wiwin langsung menuju ke kamar kost dan membuka pintu, sedangkan
Anisya mampir dulu ke kamar mandi yang terletak agak jauh dari kamar kost
mereka. Setelah membuka kamar, Wiwin begitu terkejut ketika dilihatnya kamar
mereka sudah berantakan seperti habis ada pencuri. Belum lagi sempat memeriksa
segalanya, tiba-tiba kepala Wiwin sudah dipukul dari belakang sampai pingsan.
Wiwin
tidak tahu apa-apa sampai tubuhnya digoncang-goncang seseorang hingga tersadar
dan menemukan dirinya sudah dalam keadaan terikat di kursi tempat biasanya dia
duduk untuk belajar dan mulutnya disumpal kain, sehingga tidak dapat bersuara.
Belum lagi lama dia siuman, matanya terbelalak ketika melihat pemandangan di
sekitarnya, ia melihat dua pria di depannya. Yang menyuruhnya bangun, orangnya
berbadan tinggi besar dan kepalanya berambut gondrong dia hanya mengenakan
celana jeans kumal, badannya telanjang penuh dengan tatto. Dan satu orang lagi
juga berbadan agak gemuk, berambut acak-acakan juga hanya mengenakan celana
jeans.
Wajah
mereka khas, usia mereka sekitar 40 tahunan. Sementara kamar kost mereka dalam
keadaan tertutup rapat, jendela pun yang tadinya agak sedikit terbuka kini
telah tertutup rapat. Tidak beberapa lama kemudian mata Wiwin kembali
terbelalak dan ingin menjerit, karena kedua orang itu ternyata dikenalnya. Yang
membangunkan dia bernama Asan dan satu lagi bernama Thomas atau sering dipangil
Liem. Mereka berdua adalah teman dari Henry pemilik kost yang sering nongkrong
di tempat itu, pekerjaan mereka tidak jelas.
Memang
beberapa waktu yang lalu Wiwin dan Anisya dikenalkan oleh Henry kepada Asan dan
Liem. Karena dengan setengah memaksa Henry, Asan dan Liem ingin dikenalkan
dengan Wiwin dan Anisya yang waktu itu baru pulang dari kampus. Rupanya mereka
berdua tertarik dengan kecantikan Wiwin dan Anisya. Akan tetapi rupanya cinta
mereka bertepuk sebelah tangan, Wiwin dan Anisya lebih sering menghindar untuk
bertemu dengan Asan dan Liem. Dan yang membuat hati Wiwin menjerit dan panas
adalah begitu sadar sepenuhnya dan mengetahui Asan sedang duduk di pinggir ranjang
mereka sambil memangku Anisya yang saat itu sudah tinggal memakai BH dan celana
dalamnya saja yang berwarna putih.

Anisya
sambil menangis memohon-mohon minta dilepaskan, air matanya telah membasahi
wajahnya yang cantik itu. Tapi si Asan yang badannya jauh lebih besar itu tidak
menghiraukannya, dia mulai meremas-remas payudara Anisya yang baru sekepalan
tangan orang dewasa itu yang masih terbungkus BH itu, kemudian menjilati leher
Anisya.
Pria
itu lalu berkata, “Diam, jangan macam-macam atau kupatahkan lehermu, nurut
saja kalau mau selamat..!”
Setelah
itu dilumatnya dengan rakus bibir indah Anisya dengan bibirnya, “Hmp..,
cup.., cup..,” begitulah bunyinya saat kedua bibir mereka beradu.
Air
liur pun sampai menetes-netes keluar, rupanya lidah Asan bermain di dalam
rongga mulut Anisya.
Sementara
itu Liem yang berada di samping Wiwin berkata kepada Wiwin, “Hei, elo
sudah bangun ya, teman elo ini boleh juga, gue pake dia dulu ya, baru setelah
itu giliran elo, nah sekarang elo perhatikan gue baik-baik kalo sampe elo nanti
engga bisa muasin nafsu gue, mampus deh elo..!” sambil mengelus-elus
kepala Wiwin.
Wiwin
mau berontak tapi tidak dapat berbuat apa-apa, Wiwin pun mulai pucat.
Lalu
Asan yang masih memangku Anisya menyudahi serbuan bibirnya dan berkata,
“Ok Sayang, ini waktunya pesta, ayo kita bersenang-senang!”
Dia
menyuruh Anisya berlutut di depannya dan menyuruhnya membukakan celana jeans
kumalnya, lalu mengulum batang kemaluannya.
Sambil
menangis Wiwin memohon belas kasih, “J.. ja.. angan.. tolong jangan
perkosa saya, ambil saja semua barang di sini!”
Belum
selesai berkata, tiba-tiba, “Pllaakk..!” si Asan menampar pipinya dan
menjambak rambutnya.
Dengan
paksa Anisya dibuat berlutut di depannya, “Masukkan ke dalam mulut elo,
hisap atau gue bunuh elo..!”
Terpaksa
dengan putus asa dan wajah yang pucat dan gemetar, Anisya membuka celana Asan
dan begitu dia menurunkan celana dalam Asan tampaklah kemaluan Asan yang telah
membesar dan menegang. Tanpa membuang waktu Asan segera memasukkan kemaluannya
itu ke mulut Anisya yang mungil itu. Batang kemaluannya tidak dapat sepenuhnya
masuk karena terlalu besar, dengan kasar dia memaju-mundurkan kepala Anisya.
“Hhmpp..,
emphh.. mpphh..!” begitulah suara Anisya saat mulutnya dijejali dengan
kemaluan Asan.
Liem
juga tidak tinggal diam, rupanya nafsu telah memenuhi otaknya, setelah dia
melepas celana jeansnya dia berdiri di samping Anisya, menyuruh Anisya
mengocokkan batang kemaluannya yang juga telah membesar dengan tangan. Batang
kemaluan Liem tidak sebesar temannya, tapi diameternya cukup lebar sesuai
dengan tubuhnya. Sekarang Anisya dalam posisi berlutut dengan mulut dijejali
kemaluan Asan dan tangan kanannya mengocok batang kemaluan Liem.
“Emmhh..
benar-benar enak emutan gadis cantik ini, lain dari yang lain..!” kata Asan.
“Iya,
kocokannya juga enak banget, tangannya halus nih..!” timpal Liem.
Beberapa
lama kemudian nampak tubuh Asan menegang, seluruh badannya mengejang, dan,
“A.. akh..!” Asan akhirnya berejakulasi di mulut Anisya.
Cairan
putih kental memenuhi mulut Anisya menetes di pinggir bibirnya seperti vampire
baru menghisap darah, dan Anisya terpaksa meminum semuanya karena takut ancaman
mereka dan juga kuatnya pegangan tangan Asan di kepalanya.
Setelah
itu mereka melepas BH dan CD Anisya, sehingga dia benar-benar telanjang bulat
sekarang, tampaklah payudara dan bulu-bulu kemaluannya yang masih halus dan
jarang.
“Waw
cantik sekali anjing ini.” ujar Liem sambil memandangi tubuh bagian dada
dan bawah Anisya yang sedang terisak-isak ketakutan.
Kali
ini Liem duduk di pinggir ranjang dan menyuruh Anisya berjongkok di depannya
sambil terus memijati dan mengocok batang kemaluan dengan tangannya. Anisya
terpaksa menuruti kemauan Liem itu sambil sesekali dipaksa untuk menjilati
ujung batang kemaluannya, sehingga Liem mendengus keenakan. Sementara itu si
Asan mengambil posisi berbaring di bawah kemaluan Anisya dan menjilati liang
vaginanya sambil sesekali menusuk-nusukkan jarinya ke liang kemaluan itu.
Seketika
itu Anisya kaget dan, “Ehhgh.., iihh.. iih.. eggmhh..!” Anisya pun
merintih-rintih jadinya, badannya menggeliat-geliat akibat tusukan jari-jari
serta jilatan lidah Asan di kemaluan Anisya.
“Ayo
anjing.., kocok terus barang gue..!” bentak Liem sambil menampar kepala
Anisya.
Kembali
Anisya mengocok kemaluan Liem sambil badannya terus meliak-liuk karena
kemalunnya mendapat serangan dari tangan dan lidah Asan. Dari bibirnya pun
terus terdengar suaranya merintih-tintih.
Sekitar
10 menit dikocok, Liem memuncratkan maninya dan membasahi wajah serta rongga
mulut Anisya. Kali ini Anisya sudah tidak tahan dengan rasa cairan itu,
sehingga dia memuntahkannya. Melihat itu Liem jadi gusar, dia lalu menjambak
rambut Anisya dan menampar pipinya sampai dia jatuh ke ranjang.
“Pelacur
anjing..! Kurang ajar, berani-beraninya membuang air maniku. Kalo sekali lagi
begitu, kurontokkan gigi elo, dengar itu..!” bentaknya.
Asan
pun terpaksa menyudahi aktifitasnya dan ikut-ikutan menampar Anisya.
“Goblok..!
Gue lagi asyik nikmatin memek elo. Elo jangan macem-macem ya..!” bentak
Asan.
Anisya
hanya dapat menangis memegangi pipinya yang merah akibat dua kali tamparan itu.
Nampak kemarahan Wiwin bangkit karena teman dekatnya diperlakukan begitu. Wiwin
meronta-ronta di kursinya, tapi ikatannya terlalu kencang sehingga hanya dapat
membuat kursi itu bergoyang-goyang. Melihat reaksi Wiwin si Asan berkata,
“Kenapa? Elo tidak terima ya pacar elo gue pinjam, tapi sayang sekarang
elo nggak bisa ngapa-ngapain, jadi jangan macem-macem ya, ha.. ha.. ha..! Abis
ini giliran elo yang gue entot..! Hahaha..!”
Mereka
kembali menggerayangi tubuh Anisya, kali ini Asan merentangkan tubuh Anisya di
tempat tidur dan membuka lebar kedua pahanya, dan segera mulai memasukkan
batang kejantanannya ke liang kemaluan Anisya.
“J..
jangan. Aduh.., tto.. long.., Mbak Wiwin. Ampun Bang..!” pinta Anisya
sambil mencoba berontak tapi dengan sigapnya Liem membantu Asan dengan
memegangi kedua tangan Anisya.
Batang
kemaluan yang ukurannya besar itu dimasukkannya dengan paksa ke liang kemaluan
Anisya yang masih sempit, sehingga dari wajah Anisya terlihat dia menahan sakit
yang amat sangat, tangisannya pun semakin keras.
Setelah
hampir seluruh batang kemaluannya terbenam di dalam liang kemaluan Anisya, Asan
mulai memaju-mundurkan pantatnya, mulai dengan irama pelan hingga dengan cepat.
Keringat pun dengan deras membasahi kedua tubuh itu. Beberapa saat kemudian
dari sela-sela kemaluan Anisya mengucur darah segar bercampur dengan cairan
bening hingga warnanya berubah menjadi merah muda meleleh membasahi paha
Anisya.
“Aakkh..
aahh.. aa. ouhh.. ss.. aakit. ooh. aampuun.. ohh..,” begitulah erangan dan
teriakan Anisya merasakan sakitnya.
Rupanya
teriakan dan erangan Anisya menambah nafsu dan semangat Asan untuk terus
memompakan kemaluannya dengan keras dan cepat hingga badan Anisya pun terbanting-banting
dan terguncang-guncang keras. Anisya hanya pasrah mengikuti irama Asan dan
kedua tangan Anisya pun kini sudah dilepas oleh Liem.
Selama
beberapa menit disetubuhi oleh Asan, tiba-tiba badan Anisya menegang sampai
secara refleks dia memeluk kepala Asan yang sedang asyik menggenjotnya. Dia
rupanya mengalami orgasme sampai akhirnya melemas kembali. Asan pun menyudahi
gerakan memompanya namun kemaluannya masih tetap tertanam di dalam liang vagina
Anisya.
“He..
he.. he.. Baru kali ini kan loe ngerasain pria cokin, gimana rasanya enak
engga, jawaabb..!” bentak si Asan sambil menarik rambut Anisya.
Karena
takut mereka semakin gila, terpaksa dengan berlinang air mata Anisya menjawab,
“E.. e.. enak, enak sekali..!”
“Jawab
lebih keras supaya teman loe dengar pengakuan loe..!” kata Liem.
“I..
iya, s.. saya suka sekali bercinta.” jawabnya dengan suara terbata-bata.
“Tuh,
kamu dengar kan, apa kata teman elo, dia suka dientot, ha.. ha.. ha..!”
ejek mereka pada Wiwin yang hanya dapat meronta-ronta sambil menangis di
kursinya.
Hatinya
benar-benar serasa mau meledak tapi dia tidak dapat berbuat apa-apa.
Kemudian
si Asan mencabut kemaluannya dan membuat posisi badan Anisya gaya posisi
anjing, dia kemudian memasukkan kejantanannya yang berukuran 20 cm lebih itu ke
pantatnya Anisya hingga terbenam seluruhnya.
Karena
rasa perih dan sakit yang tidak terhingga, maka Anisya berteriak memilukan,
“Aaakkhh..!”
Lalu
dia menariknya lagi, dan dengan tiba-tiba sepenuh tenaga dihujamkannya benda
panjang itu di pantat Anisya hingga membuatnya tersentak kaget dan kesakitan
sampai matanya membelalak.
“Ooughh..!”
Anisya mendengus keras menahan rasa perih dari lubang duburnya, seluruh
badannya kembali mengeras lolongannya pun kembali terdengan memilukan,
“Aahh.. ouh.. aah..! Aa.. mpun.., ssakit. Aakhh..!”
Kini
Asan meyodomi Anisya dengan irama yang keras dan cepat hingga Anisya
menggelepar-gelepar, dan badannya kini mulai melemah dan habis akibat digenjot
oleh Asan.
Tidak
beberapa lama Asan akhirnya mencabut kemaluannya dari lubang dubur Anisya
dengan kasar. Kembali darah segar mengucur deras dari liang dubur Anisya,
sementara Anisya tertelungkup jatuh ke kasur disertai rintihan panjang melemah,
“Aahh..!”
Namun
Asan belum juga puas, kemalunnya masih garang. Kini ditelentangkannya Anisya
dan kembali Asan meniduri Anisya dan memasukkan kembali batang kemaluannya ke
lubang vagina Anisya yang telah lemas itu, dan kembali Asan menggenjot tubuh
lunglai itu.
Tidak
lama Asan pun berejakulasi di rahim Anisya. Lolongan kepuasan keluar dari mulut
Asan disaat menyemprotkan spermanya yang jumlahnya banyak itu hingga meluber
keluar dari sela-sela kemaluan Anisya. Anisya pun merintih lirih, dan akhirnya
bersamaan dengan itu Anisya pun pingsan karena kehabisan tenaga dan rasa sakit
yang tidak terhingga.
Dengan
perasaan puas Asan pun merebahkan badannya di samping Anisya yang tergeletak
tidak bergerak.
“Akhirnya
gue perawanin juga elo. Dasar cewek sombong..!” ujarnya sambil mengehela
napas dan melirik Anisya.
Sesudah
itu kini Liem yang tadi menjadi penonton mulai mendekati Wiwin yang masih
terikat lemas di kursinya.
“Hei,
teman elo boleh juga tuh. Nah, sekarang giliran elo yang servise gue. Asal elo
tau gue itu naksir berat ama elo, tapi elo menghindar melulu. Gue tau gue jelek
dan gue beda ama yang elo bayangkan jadi pacar elo. Buat gue itu engga soal,
sekarang gue cuma mau perkosa elo. Udah gitu elo bebas, tapi kalo elo berontak,
Mati elo..!”
“PLAAK..!”
sebuah tamparan keras menghantam kepala Wiwin hingga Wiwin yang masih diikat di
kursi itu terjatuh bersama kursinya.
“Hmmph..!”
dengan mulut tersumbat Wiwin berteriak.
Kemudian
dia menarik dan meletakkan tubuh Wiwin mengembalikan ke posisi semula. Dengan
pisau dapur milik kedua mahasiswi itu dia merobek-robek baju kaos lengan
panjang yang dikenakan oleh Wiwin. Nafas Wiwin tersentak ketika dengan cepat
Liem dengan pisaunya melucuti BH dan celana panjang bahan yang dikenakannya.
Sekarang Wiwin hanya memakai celana dalamnya yang berwarna putih serta sepasang
kaos kaki putih setinggi lutut yang selalu dikenakannya. Payudaranya yang penuh
bulat terbuka, tubuhnya putih mulus masih dalam posisi terikat di tempat
duduknya.
“Hmph..,
hmph..!” Wiwin meronta sambil memandang Liem dengan putus asa, matanya
memerah dan air matanya mengalir deras membasahi pipinya, wajahnya pucat pasi.
Karena
dia menyadari yang akan terjadi pada dirinya, yaitu sebagai pemuas nafsu bejat.
“Diem
brengsek..!” kata Liem, “PLAK..!” sekali lagi tamparan kuat
mendarat di pipi Wiwin, membuat kepala Wiwin tersentak.
Kemudian
ia membuka ikatan Wiwin dan membantingnya ke tempat tidur dalam posisi
telungkup, dan setelah itu dia merentangkan kedua tangan Wiwin serta melebarkan
kedua kaki Wiwin hingga posisi Wiwin kini seperti orang merangkak. Wiwin hanya
dapat pasrah mengikuti kemauan Liem. Tepat di hadapannya terdapat kaca rias,
setinggi tubuh manusia. Kaca itu biasanya digunakan Wiwin dan Anisya untuk
berdandan sebelum pergi kuliah.
Leim
lalu merobek celana dalam Wiwin dengan kasar dan menjatuhkannya ke lantai.
Sekarang Wiwin dapat melihat dirinya melalui cermin di depannya telanjang
bulat, dan di belakang dilihatnya Liem sedang mengagumi dirinya.
“Gila
bener! Gue suka pantat lo. Lo bener-bener oke!”
Liem
menampar pantat sekal Wiwin yang sebelah kiri yang membuat Wiwin menjerit
kaget.
Lalu
tanpa menunggu lagi, Liem yang mulai dirasuki nafsu sex memperlihatkan penisnya
yang sudah keras. Liem hanya membiarkan topi yang masih tetap membungkus kepala
Wiwin dan sepasang kaos kaki putih yang masih dikenakan Wiwin, mungkin ini
dapat membuat nafsu Liem semakin menjadi. Karena memang dengan mengenakan topi,
wajah Wiwin jadi nampak cantik dan lucu seperti komentar kebanyakan
teman-temannya.
Kemudian
Liem menyelipkan penisnya di antara kedua kaki Wiwin lewat belakang.
“Ooh..,
ampun Pak Liem. Ampunn.., jangann.. jangan! Ampun, jangan..!” Wiwin mulai
menangis dan rasa tegang menyeliputi hatinya.
Sambil
menoleh ke belakang dan memandang Liem, Wiwin mencoba untuk meminta belas
kasihan. Terlihat air mata meleleh dari matanya. Namun Liem terus mengancam dengan
pisau dapur yang masih digenggamnya.
Liem
tidak perduli Wiwin memohon-mohon. Kepala penisnya kemudian menyusuri belahan
pantat Wiwin, terus menuju ke bawah, kemudian maju mendekati bibir vaginanya.
Setelah tangan si Liem memegang pinggul Wiwin, dengan satu gerakan keras
penisnya bergerak maju.
“Arrgghh..,
ahh.., Ampun..!” Wiwin menjerit-jerit ketika penis Liem mulai membuka
bibir vaginanya dan mulai memasuki lubang kemaluannya.
Kaki
Wiwin mengejang menahan sakit ketika penis Liem terus menembus masuk tanpa
ampun menusuk-nusuk selaput daranya.
Bibir
tebalnya menganga membentuk huruf O dan mengeluarkan rintihan-rintihan,
“Oohh.., oouugghh.., aa.. ampuun Bangg..! Aakkhh..!”
Badannya
pun tersodok-sodok. Liem terus bergerak memompa maju mundur memperkosa Wiwin.
Ketika kepala Wiwin terjatuh lunglai kesakitan, dia menarik kepala Wiwin
sehingga kepalanya kembali terangkat dan Wiwin kembali dapat melihat dirinya
disetubuhi oleh Liem melalui cermin di depannya.
Kadang-kadang
Liem menampar pantat Wiwin berulang kali, juga dilihatnya payudara Wiwin yang
tersentak-sentak setiap kali Liem menyodok penisnya ke dalam vagina Wiwin dan
dia hanya dapat pasrah mengerang-ngerang dan merintih. Tiba-tiba Liem
mengeluarkan penisnya dari vaginanya. Wiwin langsung meronta dan berlari menuju
pintu, berharap seseorang akan melihatnya minta tolong, biarpun dirinya
telanjang bulat.
Tapi
tiba-tiba Asan yang ternyata sudah pulih terlebih dahulu menyambar pinggangnya
sebelum Wiwin sampai ke pintu depan.
“Ahh,
tolong! Tolompphh..,” teriakan Wiwin dibungkam oleh tangan Asan, sementara
itu Liem mendekat dan memukul Wiwin dengan keras.
Wiwin
pun jatuh terjelembab ke lantai.
“Dasar
Bandel ya..!” ujar Liem.
Kemudian
Liem mengikat tangan Wiwin menjadi satu ke depan. Setelah itu, Wiwin didorong
hingga terjatuh di atas lutut dan sikunya. Sekarang Liem memasukkan penisnya ke
mulut Wiwin.
“Mmpphh..!”
Wiwin mencoba berteriak dengan penis yang sudah masuk di dalam mulutnya.
Sementara
itu Liem dengan tenang terus menggerakkan penisnya di mulut Wiwin. Kedua tangan
Liem memegang kepala Wiwin dengan kencangnya menggerak-gerakkan maju dan
mundur. Mata Wiwin tertutup dan wajahnya memerah, air matanya masih meleleh
turun di pipinya, baru pertama kali dalam seumur hidupnya dia diperlakukan
seperti ini.
Setelah
beberapa lama mengocok kemaluannya di rongga mulut Wiwin, terlihat tanda-tanda
Liem akan mencapai klimaksnya, gerakan memaju-mundurkan kepala Wiwin semakin
cepat.
Dan,
“Akkh.. Croot.., croot..!” Liem berejakulasi di mulut Wiwin, sperma
yang keluar jumlahnya cukup banyak sehingga meluber keluar dari mulut Wiwin.
Wiwin
hanya dapat mendengus-dengus dan dengan terpaksa menelan semua sperma yang
dimuntahkan Liem tadi, sementara pegangan tangan Liem di kepala Wiwin semakin
kencang, sehingga sulit bagi Wiwin untuk menarik kepalanya.
Setelah
semprotan sperma yang terakhir, barulah Liem mencabut kemaluan dari mulut Wiwin
yang kini mulutnya terlihat penuh dengan lendir memenuhi rongga mulutnya hingga
ke bibirnya. Dengan napas puas Liem mencapakkan kepala Wiwin hingga telentang
di kasur.
“Siap,
siap Sayang. Gue musti ngerasain pantat lo yang putih mulus dan sekal
ini..!” tiba-tiba terdengar suara Asan yang sudah berada di samping Wiwin.
Wiwin
memandang Asan dengan wajah ketakutan. Dia tahu bagaimana Asan memperlakukan
Anisya hingga pingsan.
Kemudian
Asan menoleh ke Liem yang duduk di belakangnya untuk istirahat setelah klimaks
tadi.
“Ja..
jangan, jangann.. Bang Asan.. saya nggak mau diperkosa di situ Bang..! Ampun
Bang. Rasanya ssakit.., kasihani saya Bang..!” ujar Wiwin memelas kepada
Asan.
“He
Anjing. Gue tetep nggak perduli lo mau apa nggak..!”
Asan
menarik tubuh Wiwin hingga dia terjatuh di atas sikunya lagi ke lantai, dan
mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi. Kemudian dia menempatkan kepala penisnya
tepat di tengah liang masuk anusnya.
Setelah
itu dia membuka belahan pantat Wiwin lebar-lebar.
“Ampun,
jangan..! Sakit..! Ampun Bang Asan. Ampun..! Aakkhh..!”
Asan
mulai mendorong masuk, sementara Wiwin mejerit-jerit minta ampun. Wiwin
meronta-ronta tidak berdaya, matanya terbelalak, hanya semakin menambah gairah
Asan untuk terus mendorong masuk penisnya. Wiwin terus menjerit, ketika
perlahan seluruh penis Asan masuk ke anusnya.
“Ampun..!
Sakit sekali! Ampun! Ooughh.. iihh..!” jerit Wiwin, ketika Asan mulai bergerak
pelan-pelan keluar masuk anusnya.
“Buset!
Pantat lo emang sempit banget! Lo emang cocok buat beginian!” kata Asan
sambil mengusap-usap buah pantat Wiwin.
Sementara
itu darah segar terlihat mulai mengalir menetes-netes membasahi paha dan kasur.
“Bener-bener
pantat kualitas nomer satu!” omel Asan sambil terus memompa kemaluannya.
Tangisan
Wiwin makin keras, “Sakit! Sakit sekali! Ampun, sakit! Sakit Pak,
ampun..!”
Sementara
itu badannya mengejang-ngejang menggelepar-gelepar menahan rasa sakit yang teramat
sangat, tubuhnya semakin basah oleh keringatnya.
“Gila,
gue bener-bener seneng sama pantat lo!” ujar Asan sambil terus menyodomi
Wiwin.
Hingga
akhirnya tubuh Asan mengejan keras, kepalanya menengadah ke atas, cengkraman
tangan di pinggang Wiwin pun semakin keras dan urat-uratnya pun kini terlihat
pertanda sebentar lagi dia akan mencapi klimaksnya.
Asan
berejakulasi di lubang pantat Wiwin yang semakin kepayahan dan tubuhnya
melemah. Asan pun dengan menghela napas lega kembali menjatuhkan tubuhnya ke samping
tubuh Wiwin yang juga terjatuh telungkup badannya lemas dan menahan rasa sakit
yang tidak terhingga di lubang duburnya yang kini mengalami pendarahan.
Suara
yang terdengar dalam kamar kost itu hanya tangisan Wiwin, tangisan yang
benar-benar menyayat hati, yang membuat Liem kembali bangkit nafsunya. Liem
berjongkok membalikkan tubuh Wiwin yang tadinya telungkup menjadi telentang.
Kemudian menarik kaki Wiwin, lalu membukanya dan menekuk hingga kedua pahanya
menyentuh buah dadanya.
Kini
posisi Wiwin telah siap untuk disetubuhi, Liem meraih penisnya yang telah
kembali tegang dan memeganginya, memandang ke arah Wiwin yang memalingkan
wajahnya dari Liem, matanya terpejam erat-erat wajahnya yang masih mengenakan
topi nampak cantik walau penuh dengan keringat dan air mata. Liem mengarahkan
penisnya ke vagina Wiwin, cairan yang keluar dari penisnya membasahi vaginanya,
membantu membuka bibir vagina Wiwin. Wiwin mengerang dan merintih, tubuhnya
kembali meronta-ronta, giginya menggeretak, Liem nampak menikmati jeritan Wiwin
ketika dia menghunjamkan penisnya ke vaginanya yang telah basah oleh darah dan
cairan vaginanya.
“Aahhgghh..!”
Liem mulai memperkosa Wiwin.
Kaki
Wiwin terangkat karena kesakitan dan rintihan terdengar dari tenggorokannya.
Tubuhnya mengejang berusaha melawan ketika Liem mulai bergerak dengan keras di
vagina Wiwin. Liem menarik penisnya sampai tinggal kepalanya di vagina Wiwin
sebelum didorong lagi masuk ke dalam rahimnya. Liem semakin bersemangat
mompakan batang kemaluannya di dalam rahim Wiwin.
Nafsu
telah membakar dirinya sehingga gerakannya pun semakin keras, sehingga semakin
cepat tubuh Wiwin pun lemas tergoncang-goncang dan tersodok-sodok. Dan suatu
ketika dengan kasarnya dicampakkannya topi yang menutupi kepala Wiwin oleh
Liem, sehingga tergerailah rambut indah seukuran bahu milik Wiwin. Kini pada
setiap hentakan membuat rambut indah Wiwin tergerai-gerai menambah erotisnya
gerakan persetubuhan itu. Sambil terus menggenjot Wiwin, bibir Liem kini dengan
leluasa melumat dan menjilati leher jenjang Wiwin yang tidak tertutup topi dan
menyedot salah satu sisi leher Wiwin.
Gerakan
dan hentakan-hentakan masih berlangsung, iramanya pun semakin cepat dan keras.
Wiwin pun hanya dapat mengimbanginya dengan rintihan-rintihan lemah dan
teratur, “Ahh.. ohh.., ooh.. ohh.. oohh..!” sementara tubuhnya telah
lemah dan semakin kepayahan.
Akhirya
badan Liem pun menegang dan tidak beberapa lama kemudian Liem berejakulasi di
rahim Wiwin. Sperma yang dikeluarkannya cukup banyak. Liem nampak menikmati
semburan demi semburan sperma yang dia keluarkan, sambil menikmati wajah Wiwin
yang telah kepayahan dan lunglai itu.
Liem
mengerang kenikmatan di atas badan Wiwin yang sudah lemah yang sementara
rahimnya menerima semburan sperma yang cukup banyak.
“Aauughh..
oh..!” Wiwin pun akhirnya tersentak tidak sadarkan diri dan jatuh pingsan
menyusul Anisya temannya yang terlebih dulu pingsan.
Badan
Liem menggelinjang dan mengejan disaat melepaskan semburan spermanya yang
terakhirnya dan merasakan kenikmatan itu. Batinnya kini puas karena telah
berhasil menyetubuhi dan memperkosa serta merengut keperawanan Wiwin gadis
mahasisiwi cantik yang ditaksirnya itu.
Senyum
puas pun terlihat di wajahnya sambil menatap tubuh lunglai Wiwin yang
tergelatak di bawahnya. Liem pun ibarat telah memenangkan suatu peperangan,
akhirnya terjatuh lemas lunglai tertidur dan memeluk tubuh Wiwin yang tergolek
lemah.
Begitulah
malam itu Asan dan Liem telah berhasil merenggut kegadisan dua orang gadis
cantik yang ditaksirnya. Waktu pun berlalu, fajar pun hampir menyingsing, kedua
tubuh gadis itu masih tidak bergerak. Bekas keringat, cairan sperma kering dan
darah mulai kering nampak menghiasi tubuh telanjang tidak berdaya kedua gadis
cantik itu.
Pagi
itu saat Asan dan Liem sudah rapih mengenakan pakaian mereka, tiba-tiba Henry
sang pemilik kost mendatangi kamar kedua gadis itu. Saat itu dia bersama Acong
teman Henry yang juga teman Asan dan Liem.
“Hei..,
kalian disini rupanya.” ujar Henry.
Dan
seketika matanya terbelalak ketika melihat ke dalam kamar kost dan melihat
tubuh kedua gadis telanjang itu tergeletak tidak bergerak.
“Wah
elo-elo abis pesta disini ya..?” tanya Henry.
Tanpa
menjawab, Liem dan Asan dengan tersenyum hanya berlalu meninggalkan Henry dan
Acong yang terbengong-bengong.
Saat
Liem dan Asan berjalan meninggalkan kamar kost, mereka sempat melirik ke
belakang. Rupanya Henry dan Acong sudah tidak terlihat lagi dan kamar kedua
gadis itu kembali rapat terkunci. Kini rupanya giliran Henry dan Acong yang
berpesta menikmati tubuh kedua gadis malang itu.
Memang
rupa-rupanya Henry juga memendam cinta kepada gadis-gadis itu dan kali ini dia
dibantu oleh Acong dapat leluasa menikmati tubuh gadis-gadis itu. Kembali tubuh
Anisya dan Wiwin yang sudah tidak sadarkan diri menjadi bulan-bulanan. Henry
dan Acong pun leluasa berejakulasi di mulut dan rahim gadis-gadis itu
sepuas-puasnya.
Nantikan cerita-cerita yang lebih Hot dan lebih Merangsang lagi di CERGAM +17.
Jgn lupa, Coment Anda sangat bermanfaat demi
kelangsungan blog ini.
Jadi beri coment yg bermanfaat ya Gan.. Thks !
       
      
Mistery
       
      
Kabut

       
      
Dinda

Hi. I’m Designer of Blog Magic. I’m CEO/Founder of ThemeXpose. I’m Creative Art Director, Web Designer, UI/UX Designer, Interaction Designer, Industrial Designer, Web Developer, Business Enthusiast, StartUp Enthusiast, Speaker, Writer and Photographer. Inspired to make things looks better.

Bandar bola bosliga
author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Malam Keji"