Pemerkosaan Riska

Tidak ada komentar 274 views
Cerita abg muda
website taruhan bola


iska adalah
seorang gadis pelajar kelas 3 di sebuah SMU negeri terkemuka di kota YK. Gadis
yang berusia 17 tahun ini memiliki tubuh yang sekal dan padat, kulitnya kuning
langsat. Rambutnya tergerai lurus sebahu, wajahnya juga lumayan cantik.

Dia adalah anak bungsu dari lima bersaudara,
ayahnya adalah seorang pejabat yang kini bersama ibunya tengah bertugas di
ibukota, sedang kakak-kakaknya tinggal di berbagai kota di pulau jawa ini
karena keperluan pekerjaan atau kuliah. Maka tinggallah Riska seorang diri di
rumah tersebut, terkadang dia juga ditemani oleh sepupunya yang mahasiswi dari
sebuah universitas negeri ternama di kota itu.

Sebagai anak
ABG yang mengikuti trend masa kini, Riska sangat gemar memakai pakaian yang
serba ketat termasuk juga seragam sekolah yang dikenakannya sehari-hari. Rok
abu-abu yang tingginya beberapa senti di atas lutut sudah cukup menyingkapkan
kedua pahanya yang putih mulus, dan ukuran roknya yang ketat itu juga
memperlihatkan lekuk body tubuhnya yang sekal menggairahkan.
Penampilannya
yang aduhai ini tentu mengundang pikiran buruk para laki-laki, dari yang
sekedar menikmati kemolekan tubuhnya sampai yang berhasrat ingin menggagahinya.
Salah satunya adalah Parno, si tukang becak yang mangkal di depan gang rumah
Riska. Parno, pria berusia 40 tahunan itu, memang seorang pria yang berlibido
tinggi, birahinya sering naik tak terkendali apabila melihat gadis-gadis cantik
dan seksi melintas di hadapannya.
Sosok
pribadi Riska memang cukup supel dalam bergaul dan sedikit genit termasuk
kepada Parno yang sering mengantarkan Riska dari jalan besar menuju ke kediaman
Riska yang masuk ke dalam gang.
Suatu sore,
Riska pulang dari sekolah. Seperti biasa Parno mengantarnya dari jalan raya
menuju ke rumah. Sore itu suasana agak mendung dan hujan rintik-rintik, keadaan
di sekitar juga sepi, maklumlah daerah itu berada di pinggiran kota YK. Dan
Parno memutuskan saat inilah kesempatan terbaiknya untuk melampiaskan hasrat
birahinya kepada Riska. Ia telah mempersiapkan segalanya, termasuk lokasi
tempat dimana Riska nanti akan dikerjai. Parno sengaja mengambil jalan memutar
lewat jalan yang lebih sepi, jalurnya agak jauh dari jalur yang dilewati
sehari-hari karena jalannya memutar melewati areal pekuburan.

“Lho
koq lewat sini Pak?”, tanya Riska.
“Di
depan ada kawinan, jadi jalannya ditutup”, bujuk Parno sambil terus
mengayuh becaknya.
Dengan
sedikit kesal Riska pun terpaksa mengikuti kemauan Parno yang mulai mengayuh
becaknya agak cepat. Setelah sampai pada lokasi yang telah direncanakan Parno,
yaitu di sebuah bangunan tua di tengah areal pekuburan, tiba-tiba Parno
membelokkan becaknya masuk ke dalam gedung tua itu.
“Lho
kenapa masuk sini Pak?”, tanya Riska.
“Hujan..”,
jawab Parno sambil menghentikan becaknya tepat di tengah-tengah bangunan kuno
yang gelap dan sepi itu. Dan memang hujan pun sudah turun dengan derasnya.
Bangunan
tersebut adalah bekas pabrik tebu yang dibangun pada jaman belanda dan sekarang
sudah tidak dipakai lagi, paling-paling sesekali dipakai untuk gudang warga.
Keadaan seperti ini membuat Riska menjadi semakin panik, wajahnya mulai
terlihat was-was dan gelisah.
“Tenang..
Tenang.. Kita santai dulu di sini, daripada basah-basahan sama air hujan
mending kita basah-basahan keringat..”, ujar Parno sambil menyeringai
turun dari tempat kemudi becaknya dan menghampiri Riska yang masih duduk di
dalam becak.
Bagai
tersambar petir Riskapun kaget mendengar ucapan Parno tadi.
“A..
Apa maksudnya Pak?”, tanya Riska sambil terbengong-bengong.
“Non
cantik, kamu mau ini?” Parno tiba-tiba menurunkan celana komprangnya,
mengeluarkan penisnya yang telah mengeras dan membesar.
Riska
terkejut setengah mati dan tubuhnya seketika lemas ketika melihat pemandangan
yang belum pernah dia lihat selama ini.
“J..
Jaangan Pak.. Jangann..” pinta Riska dengan wajah yang memucat.
Sejenak
Parno menatap tubuh Riska yang menggairahkan, dengan posisinya yang duduk itu
tersingkaplah dari balik rok abu-abu seragam SMU-nya kedua paha Riska yang
putih bersih itu. Kaos kaki putih setinggi betis menambah keindahan kaki gadis
itu. Dan di bagian atasnya, kedua buah dada ranum nampak menonjol dari balik
baju putih seragamnya yang berukuran ketat.
“Ampunn
Pak.. Jangan Pak..”, Riska mulai menangis dalam posisi duduknya sambil
merapatkan badan ke sandaran becak, seolah ingin menjaga jarak dengan Parno
yang semakin mendekati tubuhnya.
Tubuh Riska
mulai menggigil namun bukan karena dinginnya udara saat itu, tetapi tatkala
dirasakannya sepasang tangan yang kasar mulai menyentuh pahanya. Tangannya
secara refleks berusaha menampik tangan Parno yang mulai menjamah paha Riska,
tapi percuma saja karena kedua tangan Parno dengan kuatnya memegang kedua paha
Riska.
“Oohh..
Jangann.. P!k.. Tolongg.. Jangann..”, Riska meronta-ronta dengan
menggerak-gerakkan kedua kakinya. Akan tetapi Parno malahan semakin
menjadi-jadi, dicengkeramnya erat-erat kedua paha Riska itu sambil merapatkan
badannya ke tubuh Riska.

Riska pun
menjadi mati kutu sementara isak tangisnya menggema di dalam ruangan yang mulai
gelap dan sepi itu. Kedua tangan kasar Parno mulai bergerak mengurut kedua paha
mulus itu hingga menyentuh pangkal paha Riska. Tubuh Riska menggeliat ketika
tangan-tangan Parno mulai menggerayangi bagian pangkal paha Riska, dan wajah
Riska menyeringai ketika jari-jemari Parno mulai menyusup masuk ke dalam celana
dalamnya.
“Iihh..”,
pekikan Riska kembali menggema di ruangan itu di saat jari Parno ada yang masuk
ke dalam liang vaginanya.
Tubuh Riska
menggeliat kencang di saat jari itu mulai mengorek-ngorek lubang kewanitaannya.
Desah nafas Parno semakin kencang, dia nampak sangat menikmati adegan ‘pembuka’
ini. Ditatapnya wajah Riska yang megap-megap dengan tubuh yang
menggeliat-geliat akibat jari tengah Parno yang menari-nari di dalam lubang
kemaluannya.
“Cep..
Cep.. Cep..”, terdengar suara dari bagian selangkangan Riska. Saat ini
lubang kemaluan Riska telah banjir oleh cairan kemaluannya yang mengucur
membasahi selangkangan dan jari-jari Parno.
Puas dengan
adegan ‘pembuka’ ini, Parno mencabut jarinya dari lubang kemaluan Riska. Riska
nampak terengah-engah, air matanya juga meleleh membasahi pipinya. Parno
kemudian menarik tubuh Riska turun dari becak, gadis itu dipeluknya erat-erat,
kedua tangannya meremas-remas pantat gadis itu yang sintal sementara Riska
hanya bisa terdiam pasrah, detak jantungnya terasa di sekujur tubuhnya yang
gemetaran itu. Parno juga menikmati wanginya tubuh Riska sambil terus meremas
remas pantat gadis itu.
Selanjutnya
Parno mulai menikmati bibir Riska yang tebal dan sensual itu, dikulumnya bibir
itu dengan rakus bak seseorang yang tengah kelaparan melahap makanan.
“Eemmgghh..
Mmpphh..”, Riska mendesah-desah di saat Parno melumat bibirnya.
Dikulum-kulum, digigit-gigitnya bibir Riska oleh gigi dan bibir Parno yang
kasar dan bau rokok itu. Ciuman Parno pun bergeser ke bagian leher gadis itu.
“Oohh..
Eenngghh..”, Riska mengerang-ngerang di saat lehernya dikecup dan
dihisap-hisap oleh Parno.
Cengkeraman
Parno di tubuh Riska cukup kuat sehingga membuat Riska sulit bernafas apalagi
bergerak, dan hal inilah yang membuat Riska pasrah di hadapan Parno yang tengah
memperkosanya. Setelah puas, kini kedua tangan
kekar Parno
meraih kepala Riska dan menekan tubuh Riska ke bawah sehingga posisinya
berlutut di hadapan tubuh Parno yang berdiri tegak di hadapannya. Langsung saja
oleh Parno kepala Riska dihadapkan pada penisnya.
“Ayo..
Jangan macam-macam non cantik.. Buka mulut kamu”, bentak Parno sambil
menjambak rambut Riska.
Takut pada
bentakan Parno, Riska tak bisa menolak permintaannya. Sambil terisak-isak dia
sedikit demi sedikit membuka mulutnya dan segera saja Parno mendorong masuk
penisnya ke dalam mulut Riska.
“Hmmphh..”,
Riska mendesah lagi ketika benda menjijikkan itu masuk ke dalam mulutnya hingga
pipi Riska menggelembung karena batang kemaluan Parno yang menyumpalnya.
“Akhh..”
sebaliknya Parno mengerang nikmat. Kepalanya menengadah keatas merasakan hangat
dan lembutnya rongga mulut Riska di sekujur batang kemaluannya yang menyumpal
di mulut Riska.
Riska
menangis tak berdaya menahan gejolak nafsu Parno. Sementara kedua tangan Parno
yang masih mencengkeram erat kepala Riska mulai menggerakkan kepala Riska maju
mundur, mengocok penisnya dengan mulut Riska. Suara berdecak-decak dari liur
Riska terdengar jelas diselingi
Beberapa
menit lamanya Parno melakukan hal itu kepada Riska, dia nampak benar-benar
menikmati. Tiba-tiba badan Parno mengejang, kedua tangannya menggerakkan kepala
Riska semakin cepat sambil menjambak-jambak rambut Riska. Wajah Parno
menyeringai, mulutnya menganga, matanya terpejam erat dan..
“Aakkhh..”,
Parno melengking, croot.. croott.. crroott.. Seiring dengan muncratnya cairan
putih kental dari kemaluan Parno yang mengisi mulut Riska yang terkejut
menerima muntahan cairan itu. Riska berusaha melepaskan batang penis Parno dari
dalam mulutnya namun sia-sia, tangan Parno mencengkeram kuat kepala Riska.
Sebagian besar sperma Parno berhasil masuk memenuhi rongga mulut Riska dan
mengalir masuk ke tenggorokannya serta sebagian lagi meleleh keluar dari
sela-sela mulut Riska.
“Ahh”,
sambil mendesah lega, Parno mencabut batang kemaluannya dari mulut Riska.
Nampak
batang penisnya basah oleh cairan sperma yang bercampur dengan air liur Riska.
Demikian pula halnya dengan mulut Riska yang nampak basah oleh cairan yang
sama. Riska meski masih dalam posisi terpaku berlutut, namun tubuhnya juga
lemas dan shock setelah diperlakukan Parno seperti itu.
“Sudah
Pak.. Sudahh..” Riska menangis sesenggukan, terengah-engah mencoba untuk
‘bernego’ dengan Parno yang sambil mengatur nafas berdiri dengan gagahnya di
hadapan Riska.
Nafsu birahi
yang masih memuncak dalam diri Parno membuat tenaganya menjadi kuat
berlipat-lipat kali, apalagi dia telah menenggak jamu super kuat demi
kelancaran hajatnya ini sebelumnya. Setelah berejakulasi tadi, tak lama
kemudian nafsunya kembali bergejolak hingga batang kemaluannya kembali
mengacung keras siap menerkam mangsa lagi.
Parno
kemudian memegang tubuh Riska yang masih menangis terisak-isak. Riska sadar
akan apa yang sebentar lagi terjadi kepadanya yaitu sesuatu yang lebih
mengerikan. Badan Riska bergetar ketika Parno menidurkan tubuh Riska di lantai
gudang yang kotor itu, Riska yang mentalnya sudah jatuh seolah tersihir
mengikuti arahan Parno.
Setelah
Riska terbaring, Parno menyingkapkan rok abu-abu seragam SMU Riska hingga
setinggi pinggang. Kemudian dengan gerakan perlahan, Parno memerosotkan celana
dalam putih yang masih menutupi selangkangan Riska. Kedua mata Parno pun
melotot tajam ke arah kemaluan Riska. Kemaluan yang merangsang, ditumbuhi
rambut yang tidak begitu banyak tapi rapi menutupi bibir vaginanya, indah
sekali. Parno langsung saja mengarahkan batang penisnya ke bibir vagina Riska.
Riska menjerit ketika Parno mulai menekan pinggulnya dengan keras, batang
penisnya yang panjang dan besar masuk dengan paksa ke dalam liang vagina Riska.
“Aakkhh..”,
Riska menjerit lagi, tubuhnya menggelepar mengejang dan wajahnya meringis
menahan rasa pedih di selangkangannya.
Kedua tangan
Riska ditekannya di atas kepala, sementara ia dengan sekuat tenaga melesakkan
batang kemaluannya di vagina Riska dengan kasar dan bersemangat.
“Aaiihh..”,
Riska melengking keras di saat dinding keperawanannya berhasil ditembus oleh
batang penis Parno. Darah pun mengucur dari sela-sela kemaluan Riska.
“Ohhss..
Hhsshh.. Hhmmh.. Eehhghh..” Parno mendesis nikmat.
Setelah
berhasil melesakkan batang kemaluannya itu, Parno langsung menggenjot tubuh
Riska dengan kasar.
“Oohh..
Oogghh.. Oohh..”, Riska mengerang-ngerang kesakitan. Tubuhnya
terguncang-guncang akibat gerakan Parno yang keras dan kasar. Sementara Parno
yang tidak peduli terus menggenjot Riska dengan bernafsu. Batang penisnya basah
kuyup oleh cairan vagina Riska yang mengalir deras bercampur darah
keperawanannya.
Sekitar lima
menit lamanya Parno menggagahi Riska yang semakin kepayahan itu, sepertinya
Parno sangat menikmati setiap hentakan demi hentakan dalam menyetubuhi Riska, sampai
akhirnya di menit ke-delapan, tubuh Parno kembali mengejang keras, urat-uratnya
menonjol keluar dari
tubuhnya
yang hitam kekar itu dan Parno pun berejakulasi.
“Aahh..”
Parno memekik panjang melampiaskan rasa puasnya yang tiada tara dengan
menumpahkan seluruh spermanya di dalam rongga kemaluan Riska yang tengah
menggelepar kepayahan dan kehabisan tenaga karena tak sanggup lagi mengimbangi
gerakan-gerakan Parno.
Dan akhirnya
kedua tubuh itupun kemudian jatuh lunglai di lantai diiringi desahan nafas
panjang yang terdengar dari mulut Parno. Parno puas sekali karena telah berhasil
melaksanakan hajatnya yaitu memperkosa gadis cantik yang selama ini menghiasi
pandangannya dan menggoda dirinya.
Setelah
rehat beberapa menit tepatnya menjelang Isya, akhirnya Parno dengan becaknya
kembali mengantarkan Riska yang kondisinya sudah lemah pulang ke rumahnya. Karena
masih lemas dan akibat rasa sakit di selangkangannya, Riska tak mampu lagi
berjalan normal hingga Parno terpaksa menuntun gadis itu masuk ke dalam rumahnya.
Suasana di
lingkungan rumah yang sepi membuat Parno dengan leluasa menuntun tubuh lemah
Riska hingga sampai ke teras rumah dan kemudian mendudukkannya di kursi teras.
Setelah berbisik ke telinga Riska bahwa dia
berjanji
akan datang kembali untuk menikmati tubuhnya yang molek itu, Parno pun kemudian
meninggalkan Riska dengan mengayuh becaknya menghilang di kegelapan malam, meninggalkan
Riska yang masih terduduk lemas di kursi teras rumahnya.
Nantikan cerita-cerita yang lebih Hot dan lebih Merangsang lagi di CERGAM +17.
Jgn lupa, Coment Anda sangat bermanfaat demi
kelangsungan blog ini.
Jadi beri coment yg bermanfaat ya Gan.. Thks !

By.
4R13L 

Bandar bola bosliga
author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Pemerkosaan Riska"